https://jurnal.eraliterasi.com/index.php/eraklinis/issue/feedEra Klinis: Jurnal Penelitian Ilmu Kesehatan2026-06-20T00:00:00+00:00Risky Fatikasari, S.Gz.era.literasi@gmail.comOpen Journal Systems<div style="border: 3px #086338 Dashed; padding: 10px; background-color: #ffffff; text-align: left;"> <ol> <li><strong>Judul Jurnal</strong>: Era Klinis: Jurnal Penelitian Ilmu Kesehatan</li> <li><strong>Inisial</strong>: Era Klinis</li> <li><strong>Frekuensi</strong>: <strong>triwulanan </strong>(Februari, Mei, Agustus dan November)</li> <li><strong>ISSN Online</strong>: XXXX-XXXX</li> <li><strong>ISSN Cetak</strong>: XXXX-XXXX</li> <li><strong>Ketua Dewan Redaksi</strong>: </li> <li><strong>DOI</strong>: XX.XXXXX</li> <li><strong>Penerit</strong>: CV Era Literasi Sains</li> </ol> </div> <p style="text-align: justify;"><strong>Era Klinis: Jurnal Penelitian Ilmu Kesehatan</strong> merupakan jurnal ilmiah yang berfokus pada publikasi hasil penelitian dan kajian ilmiah di bidang ilmu kesehatan. Jurnal ini mencakup berbagai topik terkait kesehatan masyarakat, keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesehatan lingkungan, gizi, farmasi, serta pengembangan dan pelayanan kesehatan. Era Klinis menjadi wadah bagi peneliti, akademisi, tenaga kesehatan, mahasiswa, dan praktisi untuk menyebarluaskan hasil penelitian dan gagasan ilmiah yang dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Jurnal ini terbit 1 tahun 4 kali (<strong>Februari, Mei, Agustus </strong>dan<strong> November</strong>).</p>https://jurnal.eraliterasi.com/index.php/eraklinis/article/view/1Aktivitas Anti Jamur Senyawa Bioaktif Ekstrak Etil Asetat dan Metanol Daun Jeruk Purut (Cytrus Hystrix) terhadap Candida Albican2023-03-03T01:39:12+00:00Osie Listinaosie.listina@bhamada.ac.idAgung Nur Cahyantaaku.cahyanta@gmail.comDesi Sri Rejekidee.faarm@gmail.comFirman Sidiq Putrawansidfirman82@gmail.com<p style="font-weight: 400;">Daun jeruk purut <em>(citrus hystrix)</em> biasa digunakan sebagai penambah cita rasa masakan dan sebagai obat herbal diantaranya antibiotik, antiradang dan antioksidan. Ekstrak daun jeruk purut berpotensi menjadi obat antijamur. <em>Candida albican</em> adalah spesies jamur yang paling sering menyebabkan kandidiasis. Kandungan senyawa metabolit sekunder ekstrak daun jeruk purut, diduga berpeluang untuk penghambat laju pertumbuhan <em>candida albican</em>. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi dengan pelarut yang berbeda yaitu etil asetat dan metanol. Penelitian ini memiliki tujuan mengetahui aktivitas penghambatan ekstrak etil asetat dan ekstrak metanol daun jeruk purut dalam pertumbuhan <em>candida albican</em>. Uji aktivitas antijamur dilakukan menggunakan metode difusi kertas cakram pada media Potato<strong> </strong>Dextrose Agar<strong> </strong>(PDA). Dilakukan 11 perlakuan uji, diantaranya yaitu larutan uji ekstrak etil asetat dan metanol daun jeruk purut konsentrasi 15%, 20%, 25% dan 30%, larutan kontrol positif (ketokonazol 2%), kontrol negatif 1 (etil asetat) dan kontrol negatif 2 (metanol), dengan replikasi sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi daya hambat tertinggi terdapat pada ekstrak metanol 30% (10,08 mm) yang termasuk dalam antijamur golongan kuat. Analisis data menggunakan uji nonparametrik <em>Kruskal-Wallis</em>, dan menghasilkan perbedaan yang bermakna pada zona hambat yang dihasilkan. Ekstrak metanol lebih menghambat pertumbuhan <em>candida albican</em> dibanding ekstrak etil asetat daun jeruk purut, dan semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka semakin menjadi besar zona hambat yang dihasilkan.</p>2026-06-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2023 JHSR: Journal of Health Science Researchhttps://jurnal.eraliterasi.com/index.php/eraklinis/article/view/16Praktik Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tidak Tepat dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sebagai Faktor Risiko Stunting pada Anak Usia 12-24 Bulan2023-04-04T17:26:25+00:00Muayyinati Febriyaenimuayyinati@gmail.comRifatul Masrikhiyahrifatulmasrikhiyah@gmail.comDiah Ratnasaridiahratnasari@gmail.com<p>Masalah stunting pada anak perlu menjadi perhatian, karena merupakan refleksi kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Faktor penyebab stunting yang berasal dari balita itu sendiri ialah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Disamping hal itu balita yang mendapatkan MP-ASI tidak sesuai memiliki risiko mengalami stunting dibandingkan balita yang mendapatkan MP-ASI yang sesuai. Mengetahui apakah praktik pemberian ASI yang tidak tepat dan berat badan lahir rendah sebagai faktor risiko stunting pada anak usia 12-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kersana, Kabupaten Brebes. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan case control untuk menganalisis hubungan kausal dengan menggunakan logika terbalik, yaitu menentukan penyakit (outcome) terlebih dahulu kemudian mengidentifikasi penyebab (faktor risiko). Variabel penelitian terdiri atas variabel terikat stunting dan variabel bebas BBLR dan Praktik MP-ASI. Sampel terdiri kelompok kasus dan kelompok kontrol adalah 74 anak terdiri dari 37 anak usia 12-24 bulan yang stunting dan 37 anak usia 12-24 yang tidak stunting. Berdasarkan hasil penelitian kelompok kasus praktik MP-ASI tidak tepat sebanyak 20 orang (54,1%), uji statistik diperoleh nilai p= 0,485 (<0,05) dengan nilai OR (Odd Ratio) sebesar 1,544 (0,617-3,863). Kelompok kasus memiliki riwayat BBLR sebanyak 27 orang (73%), p= 0,001 (<0,05) dengan nilai OR (Odd Ratio) sebesar 5,625 (2,069-15,292), yang berarti tidak ada pengaruh yang signifikan antara praktik pemberian MP-ASI dengan kejadian stunting dan ada pengaruh yang signifikan antara riwayat BBLR dengan kejadian stunting pada anak usia 12-24 bulan. Berat badan lahir rendah merupakan faktor risiko stunting pada anak usia 12-24 bulan.</p>2026-06-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2023 Era Klinis: Jurnal Penelitian Ilmu Kesehatanhttps://jurnal.eraliterasi.com/index.php/eraklinis/article/view/17Hubungan Tingkat Pengetahuan Gizi, Status Gizi terhadap Pola Konsumsi Fast Food dan Soft Drink pada Siswa SMKN 1 Kota Tegal2023-04-04T17:29:58+00:00Sofiatun Aghniasofiaghina@gmail.comSulasyi Setyaningsihsulasyisetyaningsih@gmail.com<p><em>Fast food</em> merupakan makanan cepat saji yang kini banyak sekali dijumpai di berbagai tempat. Selain praktis, <em>fast food</em> juga memiliki cita rasa yang sangat digemari oleh halayak ramai, terutama kaum remaja. Walaupun memiliki rasa yang enak,<em> fast food</em> merupakan makanan yang minim akan nilai gizi. Dengan begitu pengetahuan akan gizi sangatlah penting untuk dipelajari. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dan pola konsumsi <em>fast food</em> dan <em>soft drink</em>, dan menganalisis hubungan status gizi dan pola konsumsi <em>fast food</em> dan <em>soft drink</em> pada siswa SMKN 1 Kota Tegal. Responden pada penelitian ini sebanyak 33 orang diambil dari berbagai kelas, untuk pengukuran tingkat pengetahuan gizi dan pola konsumsi <em>fast food</em> dan <em>soft drink</em> menggunakan kuesioner. Pengukuran status gizi menggunakan Indeks Masa Tubuh (IMT) yang diambil dari Berat Badan dan Tinggi Badan. Jenis penelitian ini menggunakan analitik observasional dengan pendekatan <em>cross sectiona</em>l dengan uji korelasi Spearman. Hasil pada penelitian ini menunjukan nilai (p>0,05) untuk hubungan status gizi dan pola konsumsi <em>fast food</em> dan <em>soft drink</em>, sedangkan hubungan tingkat pengetahuan dan pola konsumsi <em>fast food</em> dan <em>soft drink</em> menunjukkan nilai (p<0,05), jadi ada hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dan pola konsumsi <em>fast food</em> dan <em>soft drink</em> pada siswa SMKN 1 Kota Tegal, sedangkan untuk status gizi dan pola konsumsi <em>fast food</em> dan <em>soft drink</em> menunjukkan tidak adanya hubungan.</p>2023-02-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2023 Era Klinis: Jurnal Penelitian Ilmu Kesehatanhttps://jurnal.eraliterasi.com/index.php/eraklinis/article/view/18Hubungan antara Asupan Makanan dan Aktivitas Fisik terhadap Kejadian Hipertensi pada Pedagang di Pasar Kejambon Kota Tegal2023-04-04T17:32:59+00:00Susi Yulianingsihsusiyulia@gmail.comYuniartiyuniarti@gmail.com<p>Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dan sering muncul tanpa gejala. Hipertensi disebabkan oleh banyak faktor, salah satu diantaranya asupan makanan dan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan makanan dan aktivitas fisik terhadap kejadian hipertensi pada pedagang di Pasar Kejambon Kota Tegal. Jenis penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 44 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling. Asupan makanan diperoleh dari wawancara food recall 1x24 jam dan aktivitas fisik diperoleh dari wawancara dengan menggunakan kuesioner Physical Acitivity Level (PAL). Uji statistik adalah uji korelasi menggunakan Chi-Square dengan nilai α=0,05. Berdasarkan hasil penelitian hubungan antara asupan makanan dan aktivitas fisik terhadap kejadian hipertensi pada pedagang di Pasar Kejambon Kota Tegal dapat disimpulkan bahwa asupan makanan seperti karbohidrat, protein dan lemak tidak terdapat hubungan secara signifikan dengan kejadian hipertensi di Pasar Kejambon Kota Tegal. Sedangkan untuk aktivitas fisik juga tidak ada hubungan dengan kejadian hipertensi di Pasar Kejambon Kota Tegal.</p>2023-02-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2023 Era Klinis: Jurnal Penelitian Ilmu Kesehatanhttps://jurnal.eraliterasi.com/index.php/eraklinis/article/view/126Hubungan Pengetahuan Gizi dan Asupan Energi terhadap Status Gizi Mahasiswa di Universitas Muhadi Setiabudi Brebes2023-12-21T13:24:31+00:00Bidari Kintan Nawangsasibidari@gmail.comYuniarti Dewi Rahmawatiyuniarti@gmail.comAnggray Duvita Wahyanianggraydw@gmail.com<p><em>Students are individual figures who are in the process of changing from childhood to adulthood, these changes occur physically, biologically, psychologically and socially. Data on the nutritional status of the Brebes District Health Office in 2016 amounted to 81.22% of good nutrition, 0.33% of undernutrition and 18.14% of overnutrition. This indicates that the level of nutritional knowledge among students in Indonesia is still relatively low, so attitudes in choosing nutritious foods are still lacking. This study aims to determine the relationship between nutritional knowledge and nutritional status of students at the University of Muhadi Setiabudi, to determine the relationship between energy intake and nutritional status of students at the University of Muhadi Setiabudi. This study uses an analytic observational research type. The research design is cross sectional. The sample of this study is a total sample of 129 students who meet the criteria. Sampling technique using proportional random sampling technique. Showed that knowledge of good nutrition was 114 (88.37%) lacking 15 (11.62%), energy intake was right 115 (89.14%) was not right 14 (10.85%), normal nutritional status was 112 (86,82%) not normal 17 (13.17%). the results of the chi-square test of nutritional knowledge variable with nutritional status p> 0.05 (p=0.671) and energy intake variable with nutritional status p <0.05 (p=0.000).</em></p>2026-06-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2023 Era Klinis: Jurnal Penelitian Ilmu Kesehatanhttps://jurnal.eraliterasi.com/index.php/eraklinis/article/view/71A Uji Efek Imunomodulator Ekstrak Etanol Daun Sirih Hijau (Piper Betle L.) terhadap Peningkatan Aktivitas Fagositosis pada Mencit (Mus Musculus)2023-08-21T08:55:15+00:00Osie Listinaosie.listina@bhamada.ac.idArifina Fahamsyaarifina.fahamsya@gmail.comDiah Ayu Nabila Rahmaayunr57@gmail.com<p> </p> <p><em>The development of knowledge on the use of natural ingredients was chosen as an alternative immunomodulator. This study aims to find out and prove that green betel leaf ethanol extract (Piper betle L.) has immunomodulatory activity using carbon cleaning methods in male white mice. A total of 25 male white mice were divided into 5 groups consisting of group 1 as a negative control given aquadedistillate, group 2 as a positive control given a dose of 10 mg/KgBW, groups 3, 4 and 5 given green betel leaf ethanol extract with successive doses of 100, 200 and 400 mg/KgBW. The treatment was given orally as much as 1.0 mL for 6 days. On the 7th day, an immunomodulatory test of the carbon cleaning method was carried out. The results showed that the ethanol extract of green betel leaf dose 400 mg/ KgBW showed the highest immunomodulatory effect compared to doses of 100 and 200 mg/KgBW. The phagocytosis index produced from the treatment of green betel leaf ethanol extract doses of 100, 200 and 400 mg/KgBW on test animals was -16.5: 66.6 and 92.4. Based on the results of statistical tests, the administration of green betel leaf ethanol extract dose of 100 mg/KgBW Is immunosuppressant, doses of 200 and 400 mg/KgBW are immunostimulan. The best phagocytosis activity was found in the administration of green betel eaf ethanol extract dose of 400 mg/KgBW with significant differences in the group of test animals given Stimuno (p > 0.05). Green betel leaf ethanol extract has immunomodulatory activity.</em></p> <p> </p> <p> </p> <p> </p>2026-06-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2023 Era Klinis: Jurnal Penelitian Ilmu Kesehatanhttps://jurnal.eraliterasi.com/index.php/eraklinis/article/view/362Tingkat Kesukaan Nugget Singkong pada Balita di Posyandu Jaya Kusuma di Desa Bojongsari Losari2025-11-04T16:17:16+00:00Diah Ratnasaridiahratna1708@gmail.com<p><em>The utilization of local food from plantations includes cassava. Cassava is one type of local food that is usually consumed fried or boiled. Nuggets are processed meat products shaped in a certain way with the addition of specific ingredients to create a new product that is accepted by the public and becomes a favorite food for children and teenagers. The innovation of cassava nuggets is a new breakthrough to utilize local food from Brebes. The purpose of this study is to determine the level of preference for nuggets with the consumption of cassava nuggets in toddlers. This type of research is experimental research with a Quasi-Experimental design. The study was conducted over 4 days with 3 interviews using the 24-hour recall technique and 1 day of serving using the organoleptic testing technique on cassava nuggets. Testing was conducted on the level of preference using categories such as color, taste, aroma, and texture, along with children's vegetable consumption levels categorized as sufficient vegetable intake of 100 g/day, using the Spearman-Rho test. The results of this study showed that children's preference for toddler nuggets was very good, as seen from the average preference scores: color 3.63, taste 3.70, aroma 3.23, texture 3.61, meaning all categories received scores above 3, or in the category of 'like' to 'very much like'. Then, regarding the level of vegetable consumption, only 4 children met the requirement of 100 g/day, while the remaining 53 children did not meet the daily vegetable consumption requirement. Data analysis using the Spearman-Rho test to examine the relationship between nugget preference levels and children’s cassava nugget consumption yielded a result of p = 0.529. The results indicate that there is no relationship between the level of preference for cassava nugget consumption and the level of cassava nugget intake in children.</em></p>2026-06-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Era Klinis: Jurnal Penelitian Ilmu Kesehatanhttps://jurnal.eraliterasi.com/index.php/eraklinis/article/view/406Hubungan Pengetahuan, Kebiasaan Konsumsi Minuman Berpemanis dan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi Siswa SMP Nawakartika2025-12-24T04:10:57+00:00Novi Rakhmawatinovirokhmawati7@gmail.comAnggray Duvita Wahyanianggraydw@gmail.comDiah Ratnasaridiahratna1708@gmail.com<p><em>Adolescent nutrition is a critical issue in the development of national health. Factors such as physical activity, dietary patterns, and nutrition education significantly influence nutritional status. This study aims to examine the relationship between nutritional knowledge, the consumption of sugar-sweetened beverages, and physical activity with the nutritional status of eighth-grade students at SMP Nawa Kartika, Tegal Regency. The research employed a quantitative cross-sectional design. The sample consisted of 50 eighth-grade students selected through total sampling. Primary data were collected using three instruments: a nutritional knowledge questionnaire, a beverage consumption questionnaire, and a physical activity questionnaire. Data were analyzed using the Chi-Square test. The findings reveal that there is no significant correlation between nutritional status and nutrition knowledge (p = 0.181). However, a significant correlation was found between nutritional status and physical activity (p = 0.05), as well as with the habit of consuming sugar-sweetened beverages (p = 0.01). These results indicate that dietary patterns and physical activity play an essential role in determining students’ nutritional status. The study highlights the importance of promoting healthier consumption habits and increasing physical activity levels among adolescents as part of public health strategies.</em></p>2026-06-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Era Klinis: Jurnal Penelitian Ilmu Kesehatan